Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Ternyatanya aku sudah baik baik saja....

Sesekali aku ingin mengenangmu lagi. Mengingat-ingat kembali, bahwa dulu pernah ada bahagia yang berakhir luka. Aku yang dulu pernah mencintaimu dengan sangat dalam. Aku yang dulu pernah begitu percaya, bahwa kau akan menjadi alasan bahagia satu-satunya. Aku pernah menanam banyak doa-doa di dadamu. Memupuknya agar terus tumbuh dan semakin bertambah. Dengan tabah kujaga hatiku untukmu. Namun ternyata kau enggan merawatnya, kau memilih melepas paksa hatiku demi dia yang demikian kau cintai. Aku pernah mempertaruhkan hidupku hanya untuk tetap berada di hadapmu. Bahkan saat kau tak lagi peduli dengan apa saja yang aku hadapi. Aku tetap saja ingin selalu memperjuangkanmu. Waktu itu bagiku,  kau pernah begitu berarti –seseorang  yang dengan sangat kuharapkan membalas perasaanku. Orang yang tak lagi ingin kuganti dengan yang lain. Namun akhirnya kau tetap memilih orang lain. Aku kira patah hati tak pernah mampu membuatku jatuh cinta lagi. Sebab, begitu banyak doa yang kuperc...

kau satu orang yang kucintai dengan banyak hal....

Selamat malam kamu yang jauh di sana. Harus kau tahu, hatiku masih saja  jatuh padamu. Terima kasih telah bersedia bertahan sejauh ini –akan lebih jauh lagi jalan yang akan kita lalui. Tetaplah saling menguatkan. Selalu bersedia saling mengingatkan. Apa pun yang kita lalui hari ini adalah hal yang kita sebut berjuang nanti. Kita akan melaluinya bersama-sama. Tetap akan saling mendekap meski tak semudah yang kita kira. Percayalah, aku masih saja ingin dan butuh kamu. Akan selalu memilih utuh bersamamu. Jaga semangatmu di sana. Kujaga hatiku di sini. Jarak ini tak akan melemahkan kita. Semua yang kita hadapi hari ini adalah bagian dari apa yang kita kenang nanti. Aku tahu, kadang kamu merasa sedih saat rindu terasa begitu pedih. Saat kita ingin saling berbagi melepas lelah, tapi harus  belajar menerima kita tak bisa bertemu dengan mudah. Kita hanya bisa membagi keluh dan kesah melalui telepon. Kita harus menunda rindu berkali-kali. Tak jarang rasanya begitu sesak sekali. Na...

pada saatnya tiba....

Suatu hari nanti. Jangan menyesal dengan apa yang telah kau putuskan. Karena memang sudah seharusnya yang menanggalkan membawa semua hal yang mungkin mencabik hati yang ditinggalkan. Saat kau pergi, sesungguhnya kau tak berhak lagi mencampuri apa saja yang telah tanpa sengaja kau sakiti. Dia yang mungkin saja setengah mati mencoba berdiri kembali. Saat kau mematahkan hatinya, harusnya kau sadar satu hal; kau sudah keterlaluan untuk merusak bahagianya. Jika saja hari ini kau tak dapatkan apa yang kau cari. Kau tak menggenggam apa yang kau ingini. Terima saja nasibmu, karena memang tak layak lagi kau mengurusi dia yang mungkin sudah bahagia tanpamu. Cukup nikmati saja keegoisanmu untuk meninggalkan dia. Jangan pulang untuk kembali merusak apa yang baru saja ditatanya dengan tatihnya. Karena saat kau berani pindah, kau juga harus berani menerima kenyataan lain, bahwa yang pindah tak selalu berakhir indah. Tak jarang itu hanya pemancing agar kau merasakan patah. Agar kau tah...