Segala
hal yang dimulai pasti akan berakhir. Itu adalah hal yang wajar. Memang sudah
selayaknya apa yang dimulai menemui akhirnya. Hanya saja memang tidak semua
orang bisa menerima kenyataan seperti itu. Sebab, banyak yang siap memulai,
namun tidak pernah mempersiapkan diri untuk mengakhiri. Apalagi yang mulai
dengan perjuangan sepenuh hati. Misalkan, mendapatkan hati seseorang yang
diingini. Lalu tiba-tiba saja sesuatu membuatnya harus berakhir. Ya, tentu akan
mengangetkan, dan memedihkan sekali
rasanya. Tidak ada yang benar-benar siap
mengakhiri sesuatu yang dia senangi.
Namun
setidaknya, dari setiap hal yang berakhir. Kita selalu bisa belajar. Bahwa apa
pun yang ada di dunia ini. Pada hakikatnya tidak pernah benar-benar menjadi
milik kita. Bahkan jika kita mau sedikit memikirkan. Orang tua yang melahirkan
kita bukanlah milik kita. Pun sebaliknya, jika yang sudah menjadi orang tua.
Anak yang lahir dari rahim seorang ibu. Sesungguhnya tidak pernah menjadi hak
penuh ibunya. Apalagi yang hanya seorang
kekasih, hanya seorang teman, hanya sebuah benda. Hal-hal yang kita temui saat
kita sudah menjadi sesuatu saja.
Sebab
itu, mau tidak mau, kita harus belajar mencintai sewajarnya. Bukan mencintai
sekedarnya. Tapi sewajarnya. Kalau sekedarnya, berarti mencintai seadanya saja.
Atau asal-asal cinta. Sedangkan sewajarnya menempatkan dia (orang yang kita
cintai) pada posisi yang seharusnya. Kita tetap mencintai dia dengan penuh.
Namun memahami dia tidak akan bisa kita miliki selamanya. Karena bisa saja
sesorang yang kita cinta. Sesuatu yang kita miliki. Habis masanya bersama kita.
Dan mau tidak mau kita harus siap melepaskannya. Pada fase inilah sebenarnya
ujian dari mencintai sesungguhnya terjadi. Saat kita berharap bisa bersama
selamanya, namun apa daya waktu kita telah habis. Kita harus menyadari tidak
ada yang sepenuhnya menjadi milik kita.
Sejujurnya,
saya baru saja berada pada fase
mencintai sepenuhnya. Ingin memiliki seutuhnya, selamanya. Tapi, Saya
lupa, ada hal yang lebih kuat dari saya. Ada Tuhan sang maha perencana yang lebih hebat dari
rencana saya. Dan sungguh menyedihkan, hampir tiga hari saya tidak makan. Patah hati. Kuliah
berantakan. Pelayanan berantakan.
Orang tua saya marah. Hingga akhirnya, saya belajar satu hal. Di dunia ini
memang tidak ada yang bisa kita miliki sepenuh hati, meski kita bisa saja
mencintainya sepenuhnya. Dan saat mencintai seseorang, ada hal yang harus kita
terima nanti. Melepaskan atau dilepaskan paksa.
Komentar
Posting Komentar