Perpisahan seringkali membuat seseorang lepas
kendali. Ada yang berusaha bertahan sendiri. Tidak mau menerima kenyataan bahwa
orang yang dicintainya tidak lagi membutuhkannya. Setidaknya, sampai dia lelah.
Atau mungkin sampai dia sadar bahwa berjuang sendiri itu melelahkan. Tidak ada
gunanya memperjuangkan seseorang yang jelas tidak mau diperjuangkan. Namun
tidak sedikit yang terus saja mencoba untuk memperbaiki segalanya. Atau ada
yang lebih parah lagi, demi melupakan seseorang ia memaksa dirinya membenci.
Tidak salah, jika menurutmu membenci seseorang
adalah cara terbaik untuk melupakan. Namun, ada hal yang perlu dipahami, bahwa
rasa benci seringkali tidak pernah menuntaskan apa pun. Bahkan rasa benci
seringkali melahirkan beban baru di kepala kita. Sebab, semakin kita membenci
seseorang, semakin dia bersarang di kepala kita.
Harus dipahami, sekeras apa pun usaha membenci
seseorang. Selama dia masih ada di hati kita, dia tidak akan mudah dilupakan.
Sebab, itu berhentilah membenci. Karena pada dasarnya, melupakan hanyalah
perkara berdamai dengan keadaan. Tidak mudah memang, namun membenci bukanlah
cara yang baik untuk menghapus kenangan. Semuanya butuh proses. Agar melupakan
berjalan dengan semestinya, tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat.
Tidak perlu membenci, walau kamu tidak harus berbaik pada dia. Cobalah
membiasakan diri, dengan mencintai diri sendiri lebih banyak lagi.
Untuk apa membenci seseorang yang pernah begitu
kita cintai. Kalau saja dengan membenci kita malah menjadi lebih tidak tenang.
Biarlah dia berlalu. Dengan menganggapnya sebagai kenangan. Semuanya akan
menjadi lebih baik. Tidak perlu ada dendam, meski memaafkan mungkin begitu susah.
Lakukan pelan-pelan. Tanamkan pada diri sendiri bahwa dia hanyalah kenangan.
Seseorang yang mungkin lucu untuk ditertawakan. Hingga akhirnya hari ini tiba,
tanpa terasa berat lagi, tanpa perlu membenci. Kita sudah sampai pada titik:
ternyata saya sudah tidak mencintainya lagi.
4 november 2015.
Komentar
Posting Komentar