Segala hal yang dimulai pasti akan berakhir. Itu adalah hal yang wajar. Memang sudah selayaknya apa yang dimulai menemui akhirnya. Hanya saja memang tidak semua orang bisa menerima kenyataan seperti itu. Sebab, banyak yang siap memulai, namun tidak pernah mempersiapkan diri untuk mengakhiri. Apalagi yang mulai dengan perjuangan sepenuh hati. Misalkan, mendapatkan hati seseorang yang diingini. Lalu tiba-tiba saja sesuatu membuatnya harus berakhir. Ya, tentu akan mengangetkan, dan memedihkan sekali rasanya . Tidak ada yang benar-benar siap mengakhiri sesuatu yang dia senangi. Namun setidaknya, dari setiap hal yang berakhir. Kita selalu bisa belajar. Bahwa apa pun yang ada di dunia ini. Pada hakikatnya tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Bahkan jika kita mau sedikit memikirkan. Orang tua yang melahirkan kita bukanlah milik kita. Pun sebaliknya, jika yang sudah menjadi orang tua. Anak yang lahir dari rahim seorang ibu. Sesungguhnya tidak pernah menjadi hak penuh ibunya. ...
Tidak mudah memang melupakanmu. Namun, apalah artinya bertahan dalam perasaan yang membuatku semakin tidak karuan. Apalah artinya menjaga harapan yang hanya melahirkan sesak demi sesak kemudian. Tidak mudah memang melupakanmu. Seseorang yang pernah kukenal dengan perasaan terdalam. Orang yang dulu begitu baik, namun nyatanya melukai kemudian. Bagimana mungkin aku tiba-tiba menghilangkanmu dari ingatan? Sama sekali bukan hal sederhana. Tapi, segala hal yang sudah berakhirnya. Memang selayaknya ditinggal. Meski membawa luka yang membekas di hati akan membuat perasaan tersakiti berkali-kali. Hanya saja, barangkali patah di hati adalah bagian hidup yang memang wajar dijalani. Aku hanya ingin pindah. Meski merangkak sedikit demi sedikit. Meski melangkahkan kaki berakit-rakit. Ada baiknya kamu membantu usaha melupakanmu, dengan tidak lagi menemuiku sementara waktu. Melupakan seseorang yang terus saja memaksa bersama, susahnya berakali-kali lipat. Saat kamu memilih menga...